Kurikulum 2004 (KBK) & Kurikulum 2006 (KTSP) Memang Berbeda Secara Signifikan 28 Februari 2008
Posted by rijono in Opini Pendidikan.Tags: Indikator, KBK, Kompetensi Dasar, KTSP, Kurikulum, RPP, Sisdiknas, Standar Kompetensi
51 comments
Banyak kalangan, termasuk aparat Depdiknas dan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota membuat statement bahwa Kurikulum 2004 (atau KBK) tidak terlalu jauh berbeda dengan Kurikulum 2006 yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan baru ditetapkan pemberlakuannya oleh Mendiknas melalui Peraturan Mendiknas No. 24 Tahun 2006 tanggal 2 Juni 2006. Saya tidak tahu, apakah penyataan mereka itu dimaksudkan untuk “menghibur guru” agar tidak resah menghadapi perubahan kurikulum ini. Mengingat Kurikulum 2004 ini masih dalam taraf ujicoba yang lebih luas sejak tahun pembelajaran 2004/2005 dan belum semua sekolah sudah menerapkan secara utuh Kurikulum 2004. Namun apa daya, kini sudah dimunculkan kurikulum baru, Kurikulum 2006. Sehingga muncullah statement yang “menghibur” tersebut.
Hal ini adalah ironis, karena menunjukkan pemahaman yang sangat dangkal mereka terhadap Kurikulum 2006 tersebut. Saya menduga mereka hanya “mengulang-ulang” pernyataan dari BSNP, aparat Pusat Kurikulum, Pejabat Depdiknas yang bermaksud meredam agar Kurikulum 2006 tidak mendapat tentangan dari ujung tombak pendidikan : guru dan sekolah, atau gejolak yang meresahkan masyarakat dan dunia pendidikan. Jika saja mereka sudah melakukan pembandingan secara mendalam kedua kurikulum tersebut, niscaya mereka akan mengatakan bahwa Kurikulum 2004 dengan Kurikulum 2006 berbeda secara nyata, secara signifikan. Memang harus diakui dalam beberapa hal ada kesamaan atau kemiripan antara keduanya.
Berikut ini saya rangkum perbedaan dan persamaan antara Kurikulum 2004 dan Kurikulum 2006 (periksa tabel)
Apa Lagi yang Kau Cari, Anakku? 28 Februari 2008
Posted by rijono in Cerpen.3 comments
Kerinduan kepada ayahku menggelegak di dada. Kalau bukan karena rasa egoisku, aku segera pulang, ingin memeluk ayah dan seraya meratap di dadanya. Atau menelepon dari kantor desa. Atau menulis surat, untuk mengabarkan keadaanku di Kuala Buaya – sebuah desa terpencil di sebuah kabupaten di Kaltim, tempat aku menjadi guru bantu di SD Inpres. Kadang-kadang kalau aku sedang sendirian, ketika istirahat sehabis mengajar, terngiang kembali, cercaan ayah beberapa tahun lalu, ketika aku memberitahu akan masuk FKIP dan ingin menjadi guru SD saja.
“Apa yang mengisi batok kepalamu? Apa setan? Kok kamu mau-maunya menjadi guru! Apa otak – atau cuma segumpal benda berwarna kelabu? Kok kamu ndak bisa berfikir panjang, apa sih enaknya menjadi guru? Apa kamu tidak pernah tahu berapa penghasilan guru? Apa kau kira kamu bisa hidup dengan gaji segitu….?”