jump to navigation

Kualifikasi Guru Dihadang Masalah Klasik : Ya Dana, Ya Dana, Dana …! 3 April 2008

Posted by rijono in Opini Pendidikan.
Tags: , , , ,
trackback

SEMUA guru, yang mengajar di TK/RA sampai dengan SMA/MA/SMK dituntut berpendidikan S1 oleh PP No. 19 Tahun 2005 (pasal 29 ayat 1 – 6), di samping harus memiliki standar pedagodik, kepribadian, profesional, dan sosial. Oleh karenanya guru-guru yang masih belum pendidikan S1 harus mengikuti program pendidikan kualifikasi ke S1 yang diselenggarakan oleh LPTK (IKIP, STIKIP, atau FKIP) yang memiliki program studi terakreditasi pada BAN-PT. Hal ini sesuai dengan UU No. 14 Tahun 2005, pendidikan profesi/kualifikasi diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi.

Berdasarkan Surat Edaran Menteri Pendidikan Nasional Tgl. 21 Maret 2006 Nomor: 54/MPN/KP/2006 Perihal Pendidikan Profesi dan Sertifikasi Pendidik, antara lain dinyatakan bahwa:

  •  Lembaga penyelenggaraan pendidikan profesi dan sertifikasi pendidik adalah perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditunjuk oleh pemerintah.
  • Bagi guru yang akan meningkatkan kualifikasinya diarahkan untuk mengambil program Diploma 4 atau Strata 1 dari perguruan tinggi terakreditasi dan program studi yang sesuai dengan satuan pendidikan atau mata pelajaran yang diasuh oleh guru. Bagi guru SD diarahkan untuk mengambil kualifikasi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), untuk guru TK, S1 PGTK/Psikologi.
  • Pemerintah hanya mengakui sertifikasi yang dikeluarkan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditunjuk oleh pemerintah.

Jumlah guru di Kaltim yang belum memiliki kualifikasi pendidikan S1 masih sangat banyak. Dari jumlah guru seluruhnya 37.880 orang, guru yang berijazah > SLTA namun belum S1 sebanyak 23.190 orang (61,22%), dan guru yang berijazah < SLTA sebanyak 100 orang (0,26%). Sedangkan guru yang berpendidikan S1 ke atas sebanyak 13.636 orang guru (38,52%).

Pendidikan Guru di Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2005/2006

Pendidikan Guru

Jumlah (orang)

    1. Pascasarjana

    2. S1 Kependidikan

    3. S1 Non-kependidikan

    4. D-III dan Sarjana Muda (Kependidikan & Non Kependidikan)

    5. D-II

    6. D-I

    7. SLTA (Kependidikan & Non Kependidikan)

    8. < SLTA

    9. Tidak terklasifikasi (tidak ada data)

350

11.494

1.792

5.242

7.088

1.567

9.293

100

954

Jumlah Guru Seluruhnya

37.880

Sumber : Profil Pendidikan Kalimantan Timur Tahun 2005/2006

Dengan demikian hampir duapertiga guru di Kaltim perlu dikualifikasikan ke S1 dalam kurun waktu 10 tahun ke depan. Artinya, sesuai dengan tuntutan UU No. 14 Tahun 2005, pada tahun 2015 semua guru harus telah berijazah S1.

***

NIAT pemerintah untuk mengkualifikasi guru ke S1 sudah ada. Setidaknya pada tahun 2006 Pemprov Kaltim akan mengkualifikasi 650 orang guru aau rata-rata 50 orang setiap kabupaten/kota dengan dana dekonsentrasi. Dinas Pendidikan Prov. Kaltim menginginkan guru-guru tersebut mengikuti kuliah di Universitas Mulawarman di Samarinda. Artinya guru-guru yang mengikuti kuliah program kualifikasi tersebut harus meninggalkan tugas pokoknya di sekolah selama 1 – 3 tahun. Pertimbangan dari Disdik, agar guru-guru mengalami situasi belajar yang sesungguhnya di kampus. Mereka tidak hanya belajar tentang materi perkuliahan, melainkan juga memperoleh pengalaman belajar lain yang sangat berharga bagi profesinya sebagai guru.

Namun niat baik Pemprov Kaltim ini bisa terkendala. Pasalnya, anggaran yang disediakan dalam APBD Provinsi tersebut hanya untuk biaya pendidikan (SPP dan sejenisnya). Sedangkan dana untuk biaya hidup guru selama mengikuti kuliah di Samarinda, biaya transportasi, dan lain-lain tidak disediakan. Artinya, biaya tersebut dibebankan kepada pemerintah kabupaten dan kota masing-masing. Biaya ini sangat besar jumlahnya. Jika diasumsikan biaya hidup per bulan 2 juta rupiah, maka dalam satu tahun sebesar 24 juta. Kabupaten/kota harus menyediakan dana 1,2 milyar rupiah per tahun untuk biaya hidup 50 orang guru dari daerahnya. Jumlah ini mungkin “kecil” bagi daerah yang memiliki komitmen tinggi dalam peningkatan mutu SDM Guru.

Persoalannya kemudian adalah, apakah pemerintah kabupaten/kota sudah mengalokasikan dana untuk biaya hidup guru dll. itu pada tahun anggaran 2006 ini? Kalau teranggarkan, apakah tersedia pula dana untuk membiayai guru pengganti (guru honor)? Dalam PP No. 48 Tahun 2005 disebutkan larangan tentang pengangkatan pegawai tidak tetap (honorer) yang dibiayai dengan APBN atau APBD. Masalah guru pengganti ini bisa saja tidak menjadi masalah, jika disiasati dengan hanya mengirimkan 1 orang guru dari setiap sekolah. Sehingga tidak perlu mengangkat guru bantu atau guru pengganti yang dibiayai dari APBD. Sekolah mungkin perlu mencari guru honorer yang bisa dibiayai dengan dana BOS atau dari iuran bulanan siswa.

Jika tidak teranggarkan dana untuk biaya hidup, akankah biaya tersebut dipikul oleh guru-guru yang mengikuti kuliah? Bagi guru di Kota Samarinda dan di wilayah Kukar yang dekat dengan Samarinda, mungkin hal ini tidak terlalu bermasalah. Namun bagi guru yang berada di tempat yang jauh dari kota Samarinda, mereka harus menyiapkan biaya hidup Sekitar 1,5 – 2 juta per bulan. Bagaimana dengan anak, istri atau suami guru yang kuliah tersebut, ditinggalkan atau diajak ke Samarinda? Ini juga persoalan lain.

Jadi, ternyata mengkualifikasikan guru ke S1 dihadang dengan masalah klasik, yakni dana. Jika Pemprov Kaltim hanya menganggarkan dana untuk 650 orang pertahun, maka diperlukan waktu lebih 35 tahun (setara 7 kali pemilu atau pilkada) untuk menuntaskan kualifikasi ke S1 ini. Ini baru permasalahan kualifikasi, belum termasuk sertifikasi guru.

 

Oleh karena itu, untuk mendukung percepatan penuntasan kualifikasi pendidikan guru, yang hanya memberi dead line 10 tahun untuk menuntaskan kualifikasi dan sertifikasi guru, maka pemerintah kabupaten/kota dan yayasan wajib menyediakan dana pendamping (sharing) dana dekon untuk kualifikasi dan/atau dana APBD untuk kualifikasi guru ini. Dana ini harus teralokasikan dalam APBD Kabupaten/kota setiap tahun. Tanpa adanya dana APBD Kabupaten/Kota ini, sulit terealisasi secara optimal program kualifikasi guru.

Kalau sudah demikian, kapan program peningkatan mutu pendidikan kita bisa berjalan? Kapan sekolah-sekolah tersebut bisa menjadi standar? Kapan Indeks SDM kiat bisa meningkat? Semua itu tergantung pada dana. Ya dana, ya dana, dana !

 Samarinda, 25 Juni 2006 

About these ads

Komentar»

1. suhadinet - 5 April 2008

Nasib…… Setifikasi (guru) oh sertifikasi (guru)….

2. Lince Giyai - 19 Mei 2008

bapak bapak Pemerintah,baik Bapak mentri dan Presiden tolong kami guru taman kanak kanak di Papua agar bisa belajar melanjutkan Kuliah kami dari jenjang D II PGTK ke S1 PGTK maka kami minta segera membantu kami membuka S1 PGTK di Kampus Uncen Jayapura.Bisa juga karena kami berada di daerah kanbupaten kami minta agar membuka juga PGTK S1 Pararel jarak jauh agar selain kami tetap mengajar tidak terpisah dengan keluarga dan anak anak kami.sekian Lince Giyai Guru Taman Kanak – Kanak Negeri Pembina Timika.

3. sritutik - 5 Juni 2008

bagimana saudara seperjuangan yang sudah lulus sertifkasi, sudah terima da

tunjangan apa belum ? dan kami yang diklat blan januari sdah ada pengumuman kelulusankah? kok sampai sekarang belum ada informasi.

4. saipul - 28 September 2009

dana kualifikasi s1 jakarta utara ko’ belom keluar???? sampai saat ini…
gimana nih?????????? sekarang sudah bulan

5. Rangga mbojo - 6 Desember 2009

Salam perjuangan kawan guru..
Sy dukung peninkatan kualifikasi guru! Gm bs mju kalo pendikan guru blum ditinkatkan. Hanya sj, jangan sampe kualifikasi hanya formalx utk dptkan ijazah sja, perlu dperhtikan kualitas pendikanx, jadi harus mlalui pendidikan yg sungguh2. Jadwal dan tahapan kuliahx hrs standar pendidikan s1. Hal ini memerlukan political will dari pemerintah pusat dan daerah melalui regulasi dan pengawasan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: