Bimbang 17 Juli 2008
Posted by rijono in Cerpen.5 comments
Kuhapus keringat yang mengucur deras di dahiku. Sapu tanganku sudah tidak mampu menampung keringatku. Sudah setengah harian aku berjalan. Terus kususuri jalanan penuh debu. Matahari sedikit condong ke barat. Awan enggan berarak. Angin mati. Kuletakkan sejenak kopor plastik yang sudah mulai butut di rerumputan. Kuambil botol air kemasan di tas yang kugantungkan di bahu. Tinggal satu tegukan. Segera kubasahi tenggorokanku dengan air itu. Mataku mulai nanar. Inilah air terakhir yang mengisi perutku.
Sampai sesiang ini perutku hanya kuisi dengan air. Pagi tadi aku sempat menyiapkan sarapan kedua anakku sebelum mereka berangkat sekolah. Di dapur tersisa dua bungkus mie instan. Yang satu bungkus kumasak untuk sarapan mereka berdua. Yang satu kusisihkan untuk makan siang mereka. Aku hanya sempat merasai 1 – 2 sendok sisa kuahnya.
Dilarang Berbicara dengan Sopir! 3 April 2008
Posted by rijono in Cerpen.3 comments
Stiker yang bertuliskan “Dilarang Berbicara dengan Sopir!” menempel erat di sudut kanan atas kaca depan bus. Mencolok mataku setiap kali aku, awak bus atau para penumpang naik bus. Pemberitahuan – atau tepatnya perintah – ini sebetulnya biasa saja. Tapi bagiku, di kemudian hari, larangan itu sangat mengganggu. Stiker itu benar-benar stiker sialan.
***
Ketika stiker itu ditempel oleh petugas DLLAJR sebulan yang lalu, aku menyambut gembira, sangat gembira. Karena, menurut pendapatku, sopir bus atau angkutan umum harus bekerja secara profesional, tidak dipengaruhi oleh orang-orang lain di sekitarnya. Minimal tidak diganggu oleh orang lain ketika menjalankan tugas. Dengan begitu produktivitas meningkat.
Apa Lagi yang Kau Cari, Anakku? 28 Februari 2008
Posted by rijono in Cerpen.3 comments
Kerinduan kepada ayahku menggelegak di dada. Kalau bukan karena rasa egoisku, aku segera pulang, ingin memeluk ayah dan seraya meratap di dadanya. Atau menelepon dari kantor desa. Atau menulis surat, untuk mengabarkan keadaanku di Kuala Buaya – sebuah desa terpencil di sebuah kabupaten di Kaltim, tempat aku menjadi guru bantu di SD Inpres. Kadang-kadang kalau aku sedang sendirian, ketika istirahat sehabis mengajar, terngiang kembali, cercaan ayah beberapa tahun lalu, ketika aku memberitahu akan masuk FKIP dan ingin menjadi guru SD saja.
“Apa yang mengisi batok kepalamu? Apa setan? Kok kamu mau-maunya menjadi guru! Apa otak – atau cuma segumpal benda berwarna kelabu? Kok kamu ndak bisa berfikir panjang, apa sih enaknya menjadi guru? Apa kamu tidak pernah tahu berapa penghasilan guru? Apa kau kira kamu bisa hidup dengan gaji segitu….?”
UNAS 25 Januari 2008
Posted by rijono in Cerpen.1 comment so far
Ternyata, tidak hanya anak sekolah, murid-muridku, yang harus menempuh UNAS. Aku, guru mereka, ternyata juga harus menempuh UNAS. Bedanya, UNAS untuk anak sekolah dilaksanakan setahun dua kali; sekali UNAS utama, dan sekali UNAS ulangan. Yang terakhir ini khusus untuk murid yang belum lulus pada UNAS utama. UNAS guru mereka, setidaknya untukku, berlangsung setiap saat. Memang beda. UNAS untuk murid adalah Ujian Nasional. Sedangkan UNAS untukku adalah Ujian Neraka atau Surga!
Koq Setia Banget Sih? 24 Januari 2008
Posted by rijono in Cerpen.add a comment
Aku tidak mengerti, apa maksud kakakku mengirim surat yang hanya berisi sebuah pantun dan ucapan selamat. “Sambal terasi terong ungu. Dimakan dengan nasi anget. Pada profesi guru. Kamu kok setia banget”. Selamat Hari Pendidikan Nasional Adik Guruku tersayang. Kakakmu, Dewi. Hanya itu yang tertulis di selembar kertas binder bergambar Spiderman sedang terperangkap dalam jaring laba-labanya sendiri. Tak ada yang lain.
Kubolak-balik kertas surat itu, untuk mencari tulisan yang mungkin saja tersembunyi. Sungguh. Aku ingin membaca sebanyak-banyaknya tulisan dari kakakku. Siapa tahu ada kabar tentang ayah. Pesan dari ayah. Atau omelan ayah. Sungguh. Aku ingin tahu apa yang terjadi di rumah, setelah lebih satu tahun aku mengabdi menjadi guru bantu di desa Kuala Buaya. Aku ingin menulis panjang lebar tentang keadaanku selama ini kepada ayah, kalau saja rasa egoisku tidak melarang.