jump to navigation

Koq Setia Banget Sih? 24 Januari 2008

Posted by rijono in Cerpen.
trackback

Aku tidak mengerti, apa maksud kakakku mengirim surat yang hanya berisi sebuah pantun dan ucapan selamat. “Sambal terasi terong ungu. Dimakan dengan nasi anget. Pada profesi guru. Kamu kok setia banget”. Selamat Hari Pendidikan Nasional Adik Guruku tersayang. Kakakmu, Dewi. Hanya itu yang tertulis di selembar kertas binder bergambar Spiderman sedang terperangkap dalam jaring laba-labanya sendiri. Tak ada yang lain.

Kubolak-balik kertas surat itu, untuk mencari tulisan yang mungkin saja tersembunyi. Sungguh. Aku ingin membaca sebanyak-banyaknya tulisan dari kakakku. Siapa tahu ada kabar tentang ayah. Pesan dari ayah. Atau omelan ayah. Sungguh. Aku ingin tahu apa yang terjadi di rumah, setelah lebih satu tahun aku mengabdi menjadi guru bantu di desa Kuala Buaya. Aku ingin menulis panjang lebar tentang  keadaanku selama ini kepada ayah, kalau saja rasa egoisku tidak melarang.

Masih terbayang dibenakku, sewaktu aku berpamitan kepada ayah, karena aku diterima sebagai guru bantu dan ditempatkan di desa Kuala Buaya, sebuah desa kecil di ulu Kecamatan Sei Buntal. Kami hanya saling berpandangan. Ada kilau permata berkilat di sudut mata ayahku. Ada pisau sembilu menoreh-noreh hatiku. Kata-kata hilang dari mulut kami, tak sepatah kata pun tersisa. Aku hanya bisa termangu, ketika mendengar bisik ayah di balik tarikan nafasnya yang dalam, “ … apa yang kau cari anakku?”

Aku ingin bercerita banyak tentang muridku yang sebagian besar  bertelanjang kaki ke sekolah. Yang bernyanyi-nyanyi di atas gubang. Yang berlari-lari kecil ketika kehujanan di waktu berangkat atau pulang sekolah, lalu berteduh di bawah pohon mangga atau di gubug tua di pinggir desa. Yang jelas, aku tidak akan menceritakan keadaan gedung sekolah di desa kami yang sudah keropos dimakan usia, yang belum pernah direhab sejak dibangun tahun 80-an. Yang pasti, aku tidak akan menceritakan bahwa buku-buku yang ada di sekolah kami adalah buku pelajaran untuk kurikulum 1984, padahal sekarang sudah dilaksanakan kurikulum 2004. Tentu saja, aku akan merahasiakan kalau jumlah guru kami hanya tiga orang – termasuk kepala sekolahku yang sering berada di kota kecamatan daripada di sekolah karena banyak hal yang harus diselesaikan di sana. Yang jelas, aku harus menutupi kondisi yang kurang menyenangkan ini di mata keluargaku. Tetapi syukurlah, rasa egoisku melarang.

****

“Bapak yang terhormat. Mumpung Bapak ada disini, kami ingin tahu mengapa pemerintah kalau membangun gedung sekolah tidak pernah lengkap. Maksud saya, sarana dan prasarananya tidak pernah dilengkapi sesuai keperluan. Ambil contoh, misalnya SMP Negeri 1 Sei Buntal ini. Sejak dibangun empat tahun  yang lalu, ruang belajarnya hanya tiga buah, satu ruang guru dan kantor serta ruang kepala sekolah. Padahal muridnya 200-an. Sampai sekarang halaman sekolah belum diuruk. Pagar sekolah belum ada. Air bersih dan listrik belum masuk. Guru PNS-nya hanya  dua orang. Empat guru lainnya adalah guru SD yang menghonor. Sampai sekarang belum ada tambahan guru baru. Kepala sekolahnya masih dirangkap oleh kepala sekolah dari SMP di kecamatan sebelah. Kami selaku pengurus Komite Sekolah bingung. Bagaimana kami mencari biaya untuk pengurukan tanah, pemagaran sekolah, atau penambahan ruang kelas, kalau kami tidak boleh memungut iuran atau uang partisipasi dari masyarakat lagi. Ini larangan Bupati, setelah ada kebijaksanaan sekolah gratis. Sementara itu, usulan kami selalu ditolak. Katanya belum masuk prioritas. Tolong kami dibantu mencari jalan keluar. Mudah-mudahan suara pian-pian didengar oleh sidin. Sebab suara pion-pion seperti kami ini mana terdengar. Terima kasih”

“Singkat saja Pak. Bagaimana kami bisa mengajar seperti yang Bapak sampaikan sampaikan tadi, kalau di sekolah kami tidak memiliki buku-buku untuk pegangan kami mengajar. Bagaimana kami bisa mengajar seperti yang dituntut oleh KBK, kalau KBK saja kami belum mengerti. Kurikulumnya saja belum pernah kami lihat Bagaimana pendidikan di kecamatan ini bisa BERMUTU seperti yang tertulis di kain spanduk itu? Sekian, terima kasih. Maaf, saya tadi lupa memperkenalkan diri. Nama Saya ibu Marta Juwita, guru SD di Desa Biawak Ulu.”

“Pak, nama saya Baso. Kemarin saya terlambat mendaftar penerimaan CPNS. Saya sudah satu setengah tahun menjadi guru bantu di kecamatan Sei Buntal ini. Apa saya masih punya peluang untuk diangkat jadi CPNS? Kalau memang tidak, maka saya besok akan keluar dari guru. Paman saya sudah menawari pekerjaan. Saya mau  diajak ke Malaysia. Untuk apa saya menunggu-nunggu kalau memang tidak jelas. Kan janjinya Pak Menteri akan mengangkat semua guru bantu. Terima kasih.”

“Tadi Bapak mengatakan orang tua bisa dikenakan sanksi kalau tidak menyekolahkan anaknya, karena di daerah kita pendidikan sudah digratiskan. Gratis apanya, Pak? Nama? Oh ya, maaf. Nama saya Koh Midi. Anu. Apa ya … Kemarin saja anak saya merengek minta dibelikan pakaian olahraga. Bulan sebelumnya minta dibelikan tas sama buku tulis. Seharusnya pemerintah memberi perlengkapan sekolah anak secara cuma-cuma, kalau mau konsekuen. Lalu sanksinya untuk pemerintah itu sendiri apa, jika ternyata pemerintah tidak membiayai keperluan anak-anak kami? Apa sanksinya, jika pemerintah tidak membangun sekolah secara lengkap seperti yang dikatakan oleh Bapak penanya terdahulu. Terima kasih.”

Pertanyaan demi pertanyaan mengalir deras. Menggebu-gebu bahkan penuh semangat dari peserta Seminar Pendidikan yang dilaksanakan di kota Kecamatan Sei Buntal. Bahkan terlalu bersemangat, sehingga terasa sangat emosional. Kadang ditingkah dengan tepuk tangan atau tawa. Aku kebetulan ditunjuk oleh kepala sekolahku mengikuti seminar itu. Kepala sekolahku memilih berada di sekolah, setelah hampir dua minggu beliau ada keperluan di Kabupaten. Aku sangat bersyukur dapat mengikuti seminar yang temanya sangat unik: “Revitalisasi Pendidikan di Kecamatan Sei Buntal Menuju Pendidikan BERMUTU (BERkualitas – Merata – Unggul – 7 TUrunan)”. Pembicaranya berasal dari Kabupaten. Namun pertanyaan peserta, lebih merupakan keluh-kesah penanya, menyimpang dari apa yang tadi dipaparkan oleh pembicara.

Tetapi pembicaranya pintar sekali menjawab. Menurutku, pertanyaan yang dilontarkan oleh penanya tadi sangat serius. Tetapi cara pembicara menjawab sangat santai dan lucu. Sehingga suara tawa atau tepuk tangan meriah peserta seminar sering muncul disela-sela jawaban pembicara. Kami menjadi terhibur, meskipun permasalahan-permasalahan yang ditanyakan tidak dapat segera diselesaikan.

****

            Dalam perjalanan pulang ke desa Kuala Buaya, sekitar 45 menit ke arah ulu dengan ketinting, terngiang kembali paparan dan jawaban pembicara di sela-sela deru mesin ketinting yang memantul-mantul di riak air dan tebing-tebing sepanjang sungai. Aku mulai sadar bahwa pendidikan di Indonesia menghadapi banyak persoalan, dimana persoalan itu timbul karena kita buat sendiri. Padahal persoalan itu sebetulnya dapat dengan mudah diatasi kalau, istilah pembicara tadi, kita bersinergi. Kita ini pintar menganalisis, bahkan mengritik habis segala hal tentang pendidikan. Apapun upaya pemerintah dalam bidang pendidikan nyaris tidak pernah lepas dari kecaman, prasangka, atau kritik. Tapi solusi jarang dilontarkan. Sintesis terhadap pemikiran-pemikiran untuk perbaikan pendidikan nyaris tidak pernah dilakukan. Semua asyik dengan dirinya sendiri. Semua dipolitikkan. Bahkan beasiswa atau penggratisan pendidikan, tidak terlepas dari politisasi. Sehingga pendidikan yang diberikan adalah “rongsokan” – seperti kata Iwan Fals – keluhku pada diri sendiri.

            Pendidikan di Indonesia masih baik, bahkan menunjukkan kualitas yang tidak kalah dengan negara-negara tetangga, hiburku pada diri sendiri. Buktinya, kita masih mampu menjuarai lomba internasional dalam bidang Sains dan IPTEK. Dalam olimpiade Fisika, Kimia, Matematika internasional kita masih mampu meraih prestasi yang sulit diperoleh oleh Singapura atau Malaysia. Dalam lomba IPTEK di Jepang, mahasiswa kita mampu memborong beberapa penghargaan. Ini yang mengherankan negara-negara tetangga. Dalam hal virus komputer, kita sempat menghebohkan dengan munculnya virus Brontok-22.MyBro. Jadi, secara individual kualitas SDM kita tidak kalah dengan negara tetangga, pujiku dalam hati dengan bangga, seperti yang dikatakan oleh pembicara dalam seminar tadi.

Kita hanya kalah secara kolektif, keluhku, mengiyakan apa yang dipaparkan oleh bapak pembicara tadi siang. Ditunjukkannya, Indeks SDM Indonesia pada posisi 110, sedikit di bawah Vietnam dan di atas Myanmar; namun jauh di bawah Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand, Philipina yang sama-sama negara ASEAN. Kemampuan masyarakat Indonesia dalam membaca hanya pada posisi 39 dari 41 negara; di bawah Thailand, Mexico, Chili, Brasil yang sama-sama negara berkembang. Daya saing bangsa Indonesia pada posisi 59, persis di bawah Argentina, dan sangat jauh di bawah Thailand dan Malaysia yang pada posisi 27 dan 28. Lamunanku terus mengembang kemana-mana.

            Senja temaram mulai turun. Matahari berlarian di balik dedaunan. Ketintingku melaju dengan tenang. Samar-samar di depan terlihat atap-atap rumah. Beberapa saat lagi ketinting akan tiba di desa Kuala  Buaya.  Dan sebelum listrik desa menyala, aku sudah sampai di rumah. Rumah dinas kepala sekolah, yang selama ini di tempatinya sendiri – karena keluarganya tinggal di dekat Kecamatan. Aku menempati salah satu bilik kamarnya.

****

Sepucuk surat  kudapati tergeletak di tilamku. Kutemukan ketika aku merebahkan tubuhku untuk membuang rasa penatku, setelah mandi di batang. Lampu penerangan kamarku yang hanya 5 watt membuat mataku pedih ketika aku mencoba membaca sampul surat. Ternyata dari kakakku. Astaga! Ada apa gerangan?

Aku tak jadi berebah. Secepat kilat kurobek sampul surat itu. Tak biasanya kakakku menulis surat seperti ini, gumamku sambil mengeluarkan isinya Aku terperangah setelah membaca surat kakakku itu. Surat apa ini?

Di selembar kertas binder bergambar Spiderman sedang terperangkap dalam jaring laba-labanya sendiri, tertulis sebuah pantun dan ucapan selamat., “Sambal terasi terong ungu. Dimakan dengan nasi anget. Pada profesi guru. Kamu kok setia banget”. Selamat Hari Pendidikan Nasional Adik Guruku tersayang. Kakakmu, Dewi.

Entah berapa lama aku duduk tercenung sendirian. Binatang malam yang bernyanyi memecah keheningan tak kuhiraukan. Nyamuk-nyamuk kubiarkan berpesta mengisap darahku. Aku masih penasaran dengan surat kakakku. Aku tidak mengerti apa maksud kakakku menulis surat seperti itu. Pikiranku mengembara mencari jawaban.

Jangan-jangan itu adalah sindiran tentang nasibku sebagai guru bantu, yang terperangkap dalam idealismenya sendiri. Atau terperangkap dalam ruwetnya birokrasi di negeri ini. Yang tak berdaya menghadapi carut-marut kebijakan pendidikan yang sering berubah tanpa arah. Yang terkatung-katung nasibnya menunggu perbaikan seperti yang dijanjikan dalam undang-undang.

Duh! Apa seperti itu maksud kakakku? Aku sendiri tak ingin berprasangka.

Yang pasti, aku ingin mewakafkan diriku untuk pendidikan. Menjadi guru adalah pilihanku. Sungguh! Aku bahagia hidup dalam keadaan seperti ini, walaupun tidak berlimpahan materi. Walaupun hanya guru bantu di Desa Kuala Buaya. Walaupun tidak jelas apakah aku bisa diangkat menjadi CPNS. Kalau aku setia banget pada profesi guru, apakah aku salah?

Sambal terong ungu memang kesukaanku. Menjadi guru memang pilihanku!

 

Samarinda, Hari Kebangkitan Nasional  2006

Komentar»

1. debo03 - 14 Mei 2011

[…] Posted by rijono in Cerpen. trackback […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: