jump to navigation

UNAS 25 Januari 2008

Posted by rijono in Cerpen.
trackback

Ternyata, tidak hanya anak sekolah, murid-muridku, yang harus menempuh UNAS. Aku, guru mereka, ternyata juga harus menempuh UNAS. Bedanya, UNAS untuk anak sekolah dilaksanakan setahun dua kali; sekali UNAS utama, dan sekali UNAS ulangan. Yang terakhir ini khusus untuk murid yang belum lulus pada UNAS utama. UNAS guru mereka, setidaknya untukku,  berlangsung setiap saat. Memang beda. UNAS untuk murid adalah Ujian Nasional. Sedangkan UNAS untukku adalah Ujian Neraka atau Surga!

 ***

Hari itu, aku didatangi oleh orangtua muridku. Aku menerima mereka di ruang tamu rumahku yang merangkap ruang kerja, dan ruang tidurku – karena satu-satunya kamar yang ada dipakai tidur kedua anakku dan ibunya. Kupersilahkan mereka duduk setelah aku pindahkan buku-buku dan kertas-kertas yang bertumpuk di atas kursi ke lantai. Mereka agak ragu-ragu meletakkan pantatnya ke kursi, takut jebol, karena memang sudah nampak reyot.

Dengan basa-basi sekedarnya, kutanyakan “Apa yang bisa saya bantu, Pak? Bu?”

“Anu … Pak Guru. Anak kami Alex, eh … maksud kami Ali Sabiru Putra, tolong dibantulah. Dia itu ‘kan agak lemah dalam pelajaran Matematika. Dalam ulangan semester kemarin, eh … dia tidak bisa mengerjakan sama sekali soal Matematika. Kalau tidak Bapak tolong, si Ali bisa tidak naik kelas, Pak. Tolong ya, Pak …”. Kata nyonya yang berpakaian mahal itu tanpa basa-basi menyampaikan maksudnya.

“Oh, mereka ini orang Ali Sabiru Putra”, kataku dalam hati ”murid yang paling bandel dan suka membolos itu. Wajar kalau dia tidak bisa mengerjakan soal-soal Matematika yang paling mudah sekalipun. Pasalnya, setiap kali saya masuk kelas, dia langsung keluar kelas dengan berbagai alasan. Dia baru kembali ke kelas, ketika bel pergantian pelajaran atau pulang sekolah berbunyi ”.

“Eh…., apa yang bisa saya bantu, ya?”, kataku setelah agak lama tercenung.

“Tolong dibantulah nilai ulangan anak kami. Supaya anak kami bisa naik kelas begitu…”, jawabnya sambil disertai tawa basa-basi. “Tolong diatur sajalah Pak Guru”,  lanjutnya. Suaminya manggut-manggut mengiyakan.

Aku hanya bisa terdiam. Mulutku terasa berat untuk digerakkan. Tak sepatah kata pun yang bisa kuucapkan. Aku kehilangan perbendaharaan kata yang biasanya mengalir deras ketika aku mengajar. Sehingga pelajaran Matematika menjadi mudah dicerna. Muridku serasa diajak bermain-main, sehingga waktu 2 x 45 menit menjadi cepat berlalu. Kecuali, tentu saja, bagi si Ali – yang setiap kali saya masuk kelas, dia langsung keluar kelas dengan berbagai alasan. Dia baru kembali ke kelas, ketika bel pergantian pelajaran atau pulang sekolah berbunyi .

”Ini sekedar bingkisan dari kami”, katanya sambil menyerahkan sebuah amplop yang agak tebal isinya. “Pak Guru tidak usah khawatir, ini hanya kita berdua yang tahu”, sambungnya.  Suaminya manggut-manggut mengiyakan.

Aku semakin terdiam. Mungkin diamku ditafsirkan lain oleh mereka. Padahal aku sedang sibuk mencari kata-kata di dalam otakku. Sehingga ….

”Oh ya, Pak Guru. Nanti siang akan saya suruh sopir saya mengantarkan meja dan kursi …. Maaf ya Pak, anu … untuk mengganti meja dan kursi Bapak. Agar lebih nyaman kalau bekerja. Ya, kan Pap …”, kata nyonya kaya itu. Suaminya manggut-manggut mengiyakan.

”Pak, Bu … maaf ya. Saya tidak bisa membantu putra Bapak dan Ibu”. Akhirnya aku bisa menemukan kata-kata yang selama beberapa saat menghilang entah kemana. Plong. Lega. Beban yang menggayut di bibirku sudah lenyap. Aku bisa lancar bicara lagi. ”Pak, Bu … maaf. Apakah selama ini Bapak dan Ibu pernah menerima surat panggilan dari sekolah? Sudah tiga kali sekolah mengirimkan surat agar Bapak atau Ibu datang ke sekolah untuk menerima penjelasan tentang putra Bapak dan Ibu. Apakah si Ali tidak pernah menyampaikan surat panggilan itu?”

”Rasanya tidak pernah ada surat panggilan yang kami terima itu Pak? ” tukasnya cepat. ”Ya, kan Pap …?” – suaminya kembali manggut-manggut mengiyakan – ”Ada apa ya Pak dengan Alex, eh … Ali, maksud saya?”

”Maaf, Pak, Bu, putra Bapak dan Ibu sering membolos. Yang terakhir, sudah hampir satu bulan ini dia tidak masuk sekolah”, jelasku.

”Lho, ini gimana Pap? Tiap pagi anak kita ’kan berangkat sekolah ya? Kok, katanya Ali tidak pernah masuk sekolah. Sebulan lagi!”, jawab nyonya itu keheranan.

”Memang, setiap pagi Ali ada di sekolah. Namun setelah istirahat pertama, Ali sering meninggalkan sekolah dan tidak kembali lagi. Guru BK sudah mencoba menangani masalah ini, namun tidak ada perubahan. Karena itu, sekolah melayangkan surat panggilan kepada Bapak dan Ibu. Nampaknya … surat itu tidak pernah sampai ke tangan Bapak dan Ibu.”

“Tolonglah Pak Guru. Kalau perlu akan saya suruh Ali ikut les privat pada Bapak. Berapapun biayanya tidak jadi masalah. Yang penting, kami tidak malu dengan tetangga dan rekan-rekan bisnis Papinya Ali. Soalnya kami sudah merencanakan, setelah lulus SMA kelak, Ali akan kami sekolahkan di Amerika, rencananya di UCLA atau di MIT, gitu. Tolong ya, Pak …”, katanya sambil menghiba.

Aku sebetulnya kasihan. Aku ingin menolong kedua orang kaya ini.

“Waduh, maaf ya Pak, Bu … kemarin sudah dilakukan rapat kenaikan kelas. Keputusan final sudah disepakati kemarin. Jadi, sekali lagi maaf, saya tidak bisa menolong. Tolong, Bapak dan Ibu memahami posisi saya. Tolong, bingkisan Bapak Ibu diambil kembali. Saya tidak terbiasa menerima yang beginian. Maaf ya Pak, Bu. Tolong pengertiannya”. Lega! Aku merasa lega. Rasa sesak yang memenuhi dadaku, sudah menghilang. Aku telah berhasil mengatasi pergolakan yang beberapa saat yang lalu menyesaki pikiranku.

Aku masih tetap termenung di kursi butut ruang tamu rumahku, setelah kedua orang tua Ali pulang dengan membawa setumpuk kekecewaan. Ya, Allah hari ini aku sedang mengikuti UNAS-Mu yang pertama. Yang pertama?

Entahlah. Yang jelas, ketika pembagian rapor, aku melihat Ali Sabiru Putra nampak sangat gembira di sekolah. Teman-temannya memberikan ucapan selamat. Aku hanya melihat dari kejauhan. Tak lama kemudian Ibu dan Bapaknya keluar dari ruang kepala sekolah. Bapak kepala sekolah mengiringkannya dengan penuh hormat. Sampai membungkuk-bungkukkan badannya segala.

Aku cuma bisa menduga. Tanpa boleh berprasangka.

***

Sudah tiga kali aku bolak-balik pergi ke Kantor Dinas untuk melengkapi berkas usul kenaikan pangkatku. Untung saja libur sekolah sudah tiba, sehingga aku sempatkan untuk mengantarkan berkas-berkasku. Tetapi entah kenapa, selalu ada saja yang kurang lengkap. Padahal, sudah menurutku semua berkas yang diperlukan sudah ada di map-map yang kubawa. Tetapi, kata petugas yang menerima, masih ada kekurangannya.

Nyaris frustrasi aku mengurusnya. Ternyata mengurus kenaikan pangkat, yang kata peraturan merupakan penghargaan atas prestasi dari pegawai, kok begitu sulit.

Sudah lebih dari dua jam aku menunggu datangnya petugas yang kemarin menyuruhkan datang lagi dengan membawa kelengkapan berkas yang dimilikinya. Hari itu hari Jumat. Jam sudah menunjukkan 10.30. Sebentar lagi kantor Dinas tutup. Kalau tidak selesai hari ini, berarti Senin pekan depan saya harus kembali lagi. Padahal Senin depan sekolah sudah masuk kembali.

Aku terus duduk menunggu di samping ruang petugas itu. Sampai akhirnya datang kenalanku yang juga mau mengurus kenaikan pangkatnya. Kulihat berkas yang dibawanya, tidak setebal punyaku. Kutanyai apakah dia sudah melengkapi berkas ini dan itu, dijawabnya belum. Serta-merta kusarankan temanku agar melengkapi berkas-berkasnya, agar pengalaman pahitku bolak-balik melengkapi berkas tidak dialaminya.

Sialan! Temanku malahan tertawa keras.

”Mas” – dia selalu menyebutku Mas – ”pengalamanku mengurus kenaikan pangkat tidak sulit. Aku cukup menyediakan berkas utamanya saja. Berkas-berkas lain bisa diatur. Pak X – itu nama petugas pengurus kenaikan pangkat guru, kataku dalam hati – akan melengkapi berkas-berkas yang diperlukan. Kalau masih ada kekurangan angka kredit tertentu, akan dicarikan solusinya”, katanya santai.

”Tapi … aku kok disuruh bolak-balik melengkapi berkas? Padahal menurutku sudah sangat lengkap”, kataku heran.

”Oh, mungkin ada satu berkas yang belum Mas masukkan ke dalam mapnya, Mas!”

”Berkas apa lagi? Rasanya sudah semuanya”

”Berkas ini …!”, katanya sambil membuka sudut mapnya.

Kulihat ada sebuah amplop. Agak tebal isinya. Aku tidak tahu, berkas apa itu.

”Berkas apa yang ada di dalam amplop itu?”, tanyaku lugu.

Temanku tertawa ngakak. ”Mas ….Mas! Masak tidak tahu?. Isi amplop ini adalah beberapa lembar berkas yang dicetak oleh Perum Peruri! Masak tidak tahu?”

“Uang … maksudmu?”, tanyaku tidak percaya.

“Ssst… jangan keras-keras!”, sahutnya setengah berbisik.

”Beb …. beb…. berapa?”, tanyaku lirih.

”Setengah bulan gaji kita!”, bisiknya kalem.

” Setengah bulan gaji?”, ulangku cepat.

”Ya! Itu untuk tahap pertama!”

”Tahap pertama?”

”Ya. Kalau SK sudah diterima, kita harus memberi lagi!”

”Setengah bulan gaji lagi?”

”Ya!”

”….”

Dalam perjalanan pulang, kepalaku berdenyut-denyut. Pak X – petugas penerima berkas itu – tidak kembali lagi ke kantor. Dia langsung pulang, setelah rapat di Badan Kepegawaian kata rekan seruangannya. Puluhan pertanyaan dan jawaban muncul bergantian di dalam kepalaku.

***

Aku lupa kapan pastinya. Yang jelas, seminggu sebelum tes calon kepala sekolah yang diselenggarakan oleh Dinas, aku didekati seorang staf. Sambil berbasa-basi menawari aku rokok – padahal ia tahu aku tidak merokok – dia menanyakan kesiapanku mengikuti seleksi calon kepala sekolah. Ia tahu aku mengikuti seleksi calon kepala sekolah, karena saat itu aku membaca pengumuman hari pelaksanaan tes.

”Insya Allah saya sudah siapkan ikut tes ini”, kataku.

”Tes kali ini sulit lho. Karena selain harus presentasi program, juga diwawancarai. Pake Bahasa Inggris lagi”, sahutnya. Terkesan ada nuansa menakut-nakuti.

”Mudah-mudahan saya bisa menjawabnya dengan lancar”, kataku merendah.

”Kalau mau, saya bisa membantu Bapak. Saya akan hubungkan dengan tim penilainya. Supaya Bapak bisa lolos. Kasihan lho saya melihat Bapak”, katanya setengah berbisik. ”Ngomong-ngomong, sudah berapa kali Bapak ikut tes ini?”

”Sudah tiga kali. Ini yang keempat!”, jawabku perlahan.

”Na! Apalagi mau keempat kali! Apa Bapak masih mau terus-terusan ikut tes lagi tahun depan? Iya kalau ada? Katanya ini seleksi terakhir sebelum Pilkadal. Jangan lewatkan kesempatan ini”.

”Apa hubungannya Pilkadal dengan seleksi calon kepala sekolah?”, tanyaku dalam hati. Namun yang keluar di mulutku, ”Lalu, apa yang perlu saya lakukan agar bisa lolos seleksi?”,   tanyaku bagaikan kerbau dicocok hidungnya.

”Sediakan 15 JT agar bisa lolos dan masuk nominasi. Kalau untuk penempatan, tolong tambah dengan 25 JT”, katanya sangat pelan.

Mataku terbelalak! ”15 JT untuk masuk nominasi? 25 JT untuk penempatan?”, teriakku berulang-ulang tidak percaya, di dalam hati. Tetapi mulutku bungkam.

”Itu bukan untuk saya, lho Pak. Itu untuk tim penilai!”, bisiknya meyakinkan kalau atasannya tidak terlibat dalam ’bantuan’ ini. ”Bagaimana Pak? Mau dibantu? Yang kepingin jadi kepsek banyak sekali lho, Pak”, tawarnya.

Aku hanya diam. Tidak bisa lagi bicara.

”Ya, Allah. Inikah UNAS-Mu?”, bisikku dalam hati.

***

Seminggu terakhir ini aku kelimpungan. Anakku yang kedua harus dioperasi. Anakku menderita hydrocephalus. Dokter rumah sakit mengatakan biaya operasinya sampai belasan juta. Ya Allah, darimana kuperoleh uang sebanyak itu? Saya sudah mencoba menawarkan motor tuaku, satu-satunya kendaraan yang kumiliki. Tetapi tidak ada yang berminat membeli motor bekas yang sudah 8 tahun umurnya. Kalaupun ada yang menawar, harganya cuma 1½  juta. Pusing aku memikirkannya.

Apalagi sudah dua hari ini istriku mendiamkanku. Pasalnya aku dianggap tidak menyayangi anak keduaku. Pangkalnya, karena aku kukuh dengan prinsip hidupku. Penyebabnya, karena aku menolak tawaran membuatkan tesis atasan rekanku yang mau menyelesaikan S2-nya, padahal imbalannya lima juta!

***

Ternyata, tidak hanya anak sekolah, murid-muridku, yang harus menempuh UNAS. Aku, guru mereka, ternyata juga harus menempuh UNAS. Memang beda UNAS-nya. UNAS untuk murid adalah Ujian Nasional. Sedangkan UNAS untukku adalah Ujian Neraka atau Surga! Ya Allah, masih banyakkah UNAS yang harus kuikuti?

 Samarinda, 1 Muharam 1426 H

Komentar»

1. tujuhkata - 26 Januari 2008

saya sebagai seorang murid sma yang insya Allah menghormati guru saya amat tersentuh dengan cerita-cerita bapak.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: