jump to navigation

Apa Lagi yang Kau Cari, Anakku? 28 Februari 2008

Posted by rijono in Cerpen.
trackback

Kerinduan kepada ayahku menggelegak di dada. Kalau bukan karena rasa egoisku, aku segera pulang, ingin memeluk ayah dan seraya meratap di dadanya. Atau menelepon dari kantor desa. Atau menulis surat, untuk mengabarkan keadaanku di Kuala Buaya – sebuah desa terpencil di sebuah kabupaten di Kaltim, tempat aku menjadi guru bantu di SD Inpres. Kadang-kadang kalau aku sedang sendirian, ketika istirahat sehabis mengajar, terngiang kembali, cercaan ayah beberapa tahun lalu, ketika aku memberitahu akan masuk FKIP dan ingin menjadi guru SD saja.

“Apa yang mengisi batok kepalamu? Apa setan? Kok kamu mau-maunya menjadi guru! Apa otak – atau cuma segumpal benda berwarna kelabu? Kok kamu ndak bisa berfikir panjang, apa sih enaknya menjadi guru? Apa kamu tidak pernah tahu berapa penghasilan guru? Apa kau kira kamu bisa hidup dengan gaji segitu….?”

***

Ayah, kau memang benar, kataku dalam hati. Sudah enam bulan aku menjadi guru bantu, namun belum serupiah pun honorku kuterima. Sehingga untuk keperluan sehari-hari aku harus menggunakan uang tabunganku yang semakin lama semakin menipis. Pernah kutanyakan kapan pembayaran honorariumku kepada kepala sekolahku pada suatu ketika. Namun kepala sekolahku — yang selama ini lebih sering berada di kota kecamatan daripada di sekolah – mengatakan, bahwa honorarium guru bantu masih diproses di pusat. Kalau sudah ada persetujuan, nanti akan dibayarkan melalui LPMP. Kapan waktunya, itu yang tidak diketahui, begitu kata kepala sekolahku. Aku hanya manggut-manggut, walaupun dalam hati aku bertanya. Mengapa pembayaran honorarium guru bantu melalui LPMP? Setahuku, LPMP adalah lembaga penjaminan mutu pendidikan, dulu adalah BPG, balai pelatihan guru. Apa relevansinya? Ah…, aku tidak boleh berprasangka.

Ayah, kau memang benar, kataku dalam hati. Honorarium guru bantu memang sangat kecil, bahkan lebih kecil jika dibandingkan dengan UMR di Kaltim yang 650 ribu per bulan. “Apa kamu tidak pernah tahu berapa penghasilan guru? Apa kau kira kamu bisa hidup dengan gaji segitu….?”, kembali terngiang ketika aku tahu seberapa besar honorarium yang akan kuterima sebagai guru bantu di desa. Secara matematis bisa dikalkulasi berapa pengeluaranku sebulan termasuk biaya pondokan. Berapa penerimaan bersihku. Ternyata minus! Honorku masih lebih kecil dari pengeluaranku yang sudah kutekan sehemat mungkin.

Tapi, Ayah, kau juga salah, bantahku dalam hati. Walaupun honorarium guru bantu memang sangat kecil, jauh di bawah UMR, jauh di bawah pengeluaranku sehari-hari, nyatanya aku bisa hidup. Aku merasa sangat bahagia tinggal di desa ini. Bisa menonton TV rame-rame di balai desa – karena di sana ada TV umum – situasi yang tidak pernah kami rasakan selama ini. Pasalnya di rumah kami, setiap kamar selalu tersedia TV dengan antena parabola, VCD player, dan perlengkapan audio lainnya. Kami terbiasa nonton TV sendiri-sendiri. Ternyata menonton TV rame-rame di balai desa, setelah shalat Isya, sangat mengasyikkan. Karena itu adalah satu-satunya hiburan kami sampai jam 11 malam, saat diesel di balai desa dimatikan. Kebersamaan seperti ini tidak pernah aku rasakan sebelumnya.

Tapi, Ayah, kau juga salah, bisikku dalam hati. Hidup tidak hanya untuk urusan materi, untuk sepiring nasi. Aku benar-benar bisa merasakan nilai setiap rupiah yang kubelanjakan. Di desa ini, aku benar-benar bisa merasakan bedanya kebutuhan dan keinginan. Aku benar-benar bisa menghayati sunah Rasulullah, makanlah jika kamu sudah lapar; dan berhentilah makan sebelum kamu kenyang. Hal ini dahulu tidak penah kurasakan. Karena setiap yang kuinginkan bisa segera dipenuhi. Setiap hari berlimpah makanan di meja makan, yang sering tidak dimakan, karena kami sering makan di luar rumah. Sendiri-sendiri.

Mungkin inilah yang kucari, Ayah. Kebahagiaan dari sebuah ladang pengabdian, meskipun jauh dari limpahan materi.

***

Aku sedih bukan kepalang, ketika membaca puluhan opini masyarakat lewat SMS diterbitkan di sebuah koran. Kepalaku bagai dihantam palu godam, setiap kali aku membaca SMS yang menyudutkan posisi guru, yang menyalahkan guru karena mereka menjual buku pelajaran di sekolah, dan berbagai komentar lainnya.

Aku sangat paham, di zaman serba sulit seperti sekarang, sekolah menjadi terasa mahal. Walaupun pemerintah sudah memberikan berbagai bentuk bantuan dan kemudahan, namun sekolah masih dirasakan tidak murah. Wajar jika masyarakat menuntut agar sekolah digratiskan. Paling tidak untuk siswa miskin atau sekolah di pinggiran. Wajar jika mereka menuntut agar uang partisipasi orang tua dikurangi, atau kalau memungkinkan ditiadakan saja. Karena yang bersekolah bukan hanya anak-anak dari kalangan keluarga berpunya.

Aku hanya bisa mengurut dada, setiap kali mendengar keluhan orang tua siswa bahwa harga buku-buku selangit. Darimana kami mendapat duit? Padahal dari mulutnya keluar asap rokok bergumpal-gumpal setiap menit. Sehari paling tidak sebungkus rokok dibeli. Tidak kurang uang 150 ribu dihabiskan untuk rokok sebulan, 900 ribu satu semester, 1 juta 800 ribu satu tahun. Mereka sama sekali tidak mengeluhkan, bahwa rokok itu mahal. Keluhan yang sama juga tidak pernah terdengar dari orang tua siswa di kota, yang setiap hari anaknya senantiasa minta uang saku 1, 2, 3 atau 5 ribu, untuk jajan di sekolah atau naik angkot.

Mengapa untuk membeli buku, padahal sesungguhnya mereka mampu, mereka mengeluh panjang-pendek? Sementara untuk hal-hal yang konsumtif, mereka tidak ada keluhan? Ah…, aku tidak boleh berprasangka.

Untung sekolah tempat mengajar adalah sekolah pinggiran, yang dengan adanya BOS, bantuan untuk operasional sekolah, anak-anak di desaku dapat bersekolah dengan gratis, maksudnya tidak perlu membayar iuran bulanan lagi. Sekolahku tidak menjual pakaian seragam, perlengkapan sekolah, atau buku pelajaran. Sehingga orang tua harus membelinya sendiri di kota atau di pasar malam yang digelar setiap hari Minggu.

Walaupun kami harus mengajar dengan kelengkapan sekolah seadanya, karena orangtua siswa tidak mau membayar uang partisipasi sekolah lagi – alasannya, karena sudah BOS dari pemerintah – tetapi kami, para guru, mengajar dengan senang hati. Karena kami tidak dicurigai telah melakukan praktek bisnis di sekolah, atau telah kehilangan hati nurani sebagai pendidik, atau telah mengambil kesempatan dalam kesempitan, atau hanya memikirkan kesejahteraan diri sendiri.

Tetapi jangan menyalahkan kami, kalau ternyata belajar aktif yang dituntut oleh KBK tidak dapat terealisasi, atau mutu PBM menjadi menurun, sehingga akhirnya prestasi belajar rendah dan banyak yang tidak lulus UNAS. Karena kami mengajar dengan kondisi yang serba seadanya: peralatan sekolah seadanya, buku seadanya, honor mengajar (bagi guru bantu) seadanya, honor kelebihan mengajar seadanya, dan seadanya-seadanya lainnya.

Kami pun, sebagai guru, harus bisa hidup seadanya.

Tetapi kalau ada rekan kami terpaksa, harus mengojek di siang atau malam hari, jangan disalahkan. Kalau kami harus membuka ladang atau berkebun, seperti penduduk desa yang lain, jangan dicemburukan. Kalau kami harus menjadi pedagang kaki lima di pasar-pasar malam, jangan diirikan. Karena anak istri kami juga manusia, juga perlu makan, juga perlu biaya pendidikan, juga perlu hidup berkecukupan seperti anak orang-orang lainnya. Karena gaji kami sebagai guru hanya cukup untuk hidup layak sepertiga bulan. Sepertiga bulan saja. Dua pertiganya sisanya harus kami cari darimana saja.

Kalau sudah begini, aku menjadi teringat dengan ucapan ayahku, “Apa kamu tidak pernah tahu berapa penghasilan guru? Apa kau kira kamu bisa hidup dengan gaji segitu….?”

Tetapi, Ayah, menjadi guru adalah pilihanku. Sungguh! Aku bahagia hidup dalam keadaan seperti ini, walaupun tidak berlimpahan materi. Aku ingin mewakafkan diriku untuk pendidikan, Ayah! Apakah ini salah?

***

Sewaktu aku berpamitan kepada ayah, karena aku diterima sebagai guru bantu di desa Kuala Buaya, kami hanya saling berpandangan. Ada kilau permata berkilat di sudut mata ayahku. Ada pisau sembilu menoreh-noreh hatiku. Kata-kata hilang dari mulut kami, tak sepatah kata pun tersisa. Aku ingin memeluk dan meratap di dadanya, kalau saja rasa egoisku tidak melarang.

Aku sempat mendengar bisik ayah di balik tarikan nafasnya yang dalam, “ … apa yang kau cari anakku?”

“Ayah, aku ingin menjadi diriku sendiri. Bukan menjadi bayang-bayangmu. Bukan seperti yang kau kehendaki. Bukan karena nama besarmu. Menjadi guru, adalah pilihanku, seperti ibunda dulu, yang pernah menjadi guru sukarelawan sebelum ayah sunting menjadi istri. Apakah pilihanku salah, Ayah?”, teriakku dalam hati, di sela-sela isak tangis yang kutahan, dari atas angkutan pedesaan yang mengantarku ke desa Kuala Buaya enam bulan yang lalu.

 

Samarinda, Menjelang 17 Agustus 2005

Komentar»

1. santi natalia - 30 Juni 2008

inspiratif!!!
semoga semangat ini dimiliki oleh setiap orang, bukan segelintir. guru bukanlah profesi tapi panggilan jiwa. ini bukan pilihan, karena ini amanah.

2. Imam Solihin - 7 September 2008

pak saya ingin tahu tabel perbandingan pencapaian / distribusi materi kimia sma untuk kurikulum 94, kbk, dan ktsp

3. yuniarti, di Penajam - 17 September 2009

sungguh crita yg mengharu biru..crita yg mbuat kita brtambah semangat sbg tenaga pendidik..bhw seorg guru itu emang berat namun byk hal yg luar biasa,yg dapat kita rasakan..dapat kita jadikan pemblajaran dalam hidup ini..sulit emang..tp jika kt sabar pasti smua itu ada hikmahnya…dan jika melakukannya dg tulus ikhlas,maka akan brtambah nikmatnya kelak…Ayo tetaplah semangat wahai guru di mana kau berada..janganlah patah arang demi mencerdaskan anak bangsa…good luck..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: