jump to navigation

Dilarang Berbicara dengan Sopir! 3 April 2008

Posted by rijono in Cerpen.
trackback

Stiker yang bertuliskan “Dilarang Berbicara dengan Sopir!” menempel erat di sudut kanan atas kaca depan bus. Mencolok mataku setiap kali aku, awak bus atau para penumpang naik bus. Pemberitahuan – atau tepatnya perintah – ini sebetulnya biasa saja. Tapi bagiku, di kemudian hari, larangan itu sangat mengganggu. Stiker itu benar-benar stiker sialan.

***

Ketika stiker itu ditempel oleh petugas DLLAJR sebulan yang lalu, aku menyambut gembira, sangat gembira. Karena, menurut pendapatku, sopir bus atau angkutan umum harus bekerja secara profesional, tidak dipengaruhi oleh orang-orang lain di sekitarnya. Minimal tidak diganggu oleh orang lain ketika menjalankan tugas. Dengan begitu produktivitas meningkat.

Hari-hari pertama sejak stiker itu menempel di kaca depan bus, aku merasa bebas dalam menjalankan tugasku. Setiap kali ada penumpang mengajakku berbicara, bercanda atau bertanya, tanganku segera menunjuk-nunjuk ke arah stiker itu. Mereka tersenyum, maklum. Aku juga tersenyum, juga maklum. Hari-hari pertama sejak stiker itu menempel di kaca depan bus, aku merasa telah menjalankan tugasku lebih baik dari hari-hari sebelumnya.

“Dengan adanya stiker ini, Saudara dapat menjalankan tugas lebih baik”, kata petugas DLLAJR pada waktu itu. “Saudara dapat dengan tenang bekerja, tidak terganggu lagi oleh para penumpang. Dengan demikian profesionalisme awak bus dan layanannya akan meningkat”, lanjut petugas itu sambil menyodorkan kuitansi. “Ini sekedar biaya pengganti pembuatan stiker”. Aku manggut-manggut, seperti murid mendengar penjelasan guru, seraya memberikan dua lembar sepuluh ribuan kepada petugas itu. Terima kasih – itu saja yang kudengar, karena orang itu segera berpindah ke bus-bus berikutnya yang semakin banyak memenuhi terminal kota. Aku juga mulai memperhatikan penumpang yang berlalu lalang mencari bus yang akan mengantarkan ke tujuan yang diinginkan. Pedagang asongan naik-turun bus sambil menjajakan dagangannya.

Aku bernyanyi-nyanyi dalam hati hari itu. Aku akan melayani penumpang sebaik mungkin janjiku dalam hati hari itu. Aku harus menunjukkan sikap profesional – seperti yang dikatakan petugas DLLAJR – ikrarku dalam hati mulai hari itu. Dan terasa matahari berjalan dengan lebih cepat hari itu. Tanpa terasa senja sudah datang. Bus harus masuk kandang. Sambil berdendang aku pulang. Motorku kugas penuh sehingga seakan terbang. Kukabarkan kepada rembulan dan bintang yang baru muncul di rembang petang, “Hoi …! Aku senang!”

Anak istriku bingung melihat tingkahku malam itu. Karena sebentar-sebentar aku mengatakan “yes!” sambil mengayunkan tangan dan senyum mengembang. Sementara pandanganku jauh menerawang.

***

Stiker yang bertuliskan “Dilarang Berbicara dengan Sopir!” masih menempel erat di sudut kanan atas kaca depan bus. Pemberitahuan – atau tepatnya perintah – ini sebetulnya biasa saja. Tapi bagiku, pada hari-hari berikutnya, larangan itu sangat mengganggu. Stiker itu benar-benar stiker sialan, aku dibuat kelimpungan karenanya.

***

Penumpang bus sudah mulai terbiasa dengan larangan di stiker itu. Mereka mematuhi perintah itu. Aku senang, teramat senang. Kalau seluruh masyarakat mentaati segala peraturan yang dikeluarkan pemerintah, pasti negeri ini sudah makmur belasan tahun yang silam, khayalku sambil memperhatikan penumpang diam-diam melalui kaca spion.

Hari berganti hari dengan cepat. Aku tidak ingat lagi sudah berapa lama sejak stiker itu ditempelkan. Aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini muncul. Yang kurasakan ada kekosongan di hati beberapa hari terakhir ini. Aku merasakan ada sesuatu yang hilang, yang dulu, ya … dulu pernah memenuhi sudut-sudut ruang busku.

Obrolan singkat namun hangat dari penumpang kepadaku tak ada lagi. Karena semenjak stiker itu menempel di kaca depan busku, penumpang yang duduk atau berdiri di sekitar bangku sopir menjaga jarak. Kalau ada yang nekat mengajakku ngobrol, penumpang lain atau bahkan aku sendiri segera menunjuk-nunjuk ke stiker itu. Sesaat suasana menjadi senyap. Hanya deru mesin yang kini mengisi penuh bus.

Seloroh atau canda lucu yang kadang-kadang agak jorok dari penumpang kepadaku tak ada lagi. Karena semenjak stiker itu menempel di kaca depan busku, penumpang yang duduk atau berdiri di sekitar bangku sopir menjaga jarak. Kalau ada yang nekat mengajakku bercanda, penumpang lain atau bahkan aku sendiri segera menunjuk-nunjuk ke stiker itu. Suasana segera menjadi senyap. Hanya lagu-lagu dangdut dari tape tua di bus yang kini mengisi kesenyapan itu.

Entah sudah berapa lama ini berlangsung. Entah sejak kapan aku merasa ada yang kosong di relung hati. Aku mulai rindu dengan obrolan atau canda itu lagi, yang sejak stiker itu dipasang, semuanya pelan-pelan menghilang.

***

Aku mulai menyadari hal ini, ketika anak-anakku sering bertanya : “Mengapa bapak selalu diam ketika diajak berbicara? Padahal biasanya bapak paling banyak bicara di rumah setelah seharian lelah bekerja. Dulu selalu membawa cerita-cerita lucu yang selalu kami tunggu-tunggu sewaktu bapak pulang. Dulu selalu membawa tebak-tebakan baru yang selalu kami tunggu-tunggu sewaktu bapak pulang”. Aku baru menyadari belakangan.

Istriku juga mengatakan demikian. Aku menjadi sangat berubah – entah mulai kapan. Yang jelas, setiap kali ada komentar terhadap tayangan televisi dari anak-anak yang kami tonton bersama di satu-satunya ruang keluarga di rumah kontrakan, yang merangkap menjadi ruang makan, ruang belajar dan ruang tidurnya anak-anak, tanganku – kata istriku – tanpa sadar menunjuk-nunjuk ke depan, yang secepatnya berganti dengan mengacungkan telunjuk di depan bibir. Aku pun baru menyadari belakangan.

Dan sebagaimana biasanya kesadaran seringkali datangnya terlambat, sangat terlambat. Karena aku selalu menunjuk-nunjuk ke depan dan segera secepatnya mengacungkan telunjuk di depan bibir, setiap kali saya diajak bicara oleh orang lain. Bahkan, kata isteriku, aku selalu menunjuk-nunjuk ke depan dan segera secepatnya mengacungkan telunjuk di depan bibir, ketika presiden atau menteri yang sedang berpidato atau ketika penyiar televisi sedang berbicara, pada waktu aku menonton TV sendirian. Belakangan aku juga menunjuk-nunjuk ke depan dan segera secepatnya mengacungkan telunjuk di depan bibir, ketika TV disetel.

Aku, kata istriku, selalu bertingkah laku seperti itu. Sampai mereka kewalahan mengingatkanku. Aku, menurut dokter seperti yang dikatakan istriku, sangat tidak ingin ada orang lain mengajakku berbicara. Entah apa penyebabnya. Para dukun dan orang-orang pintar yang didatangi istriku mengatakan aku kesambet. Itu saja.

***

Stiker yang bertuliskan “Dilarang Berbicara dengan Sopir!” menempel erat di sudut kanan atas kaca depan bus. Warnanya sudah mulai kusam. Mungkin bagi kalian biasa saja. Tapi bagiku, pemberitahuan itu sangat mengganggu. Stiker itu benar-benar stiker sialan. Gara-gara stiker itu aku berada di sini, dipasung di dalam rumah kontrakan. Karena istriku tak punya biaya untuk mengirimku ke rumah sakit jiwa …!

 Samarinda, 14 Ramadhan 1424H

 

Komentar»

1. Suhadinet - 15 April 2008

Ha.ha.ha., cerpen yang bagus. Jadi ”aku” bisa masuk r.s.j. gara-gara sebuah stiker. Pesan yang saya tangkap: hati-hati dengan stiker!

2. Citra Rahayu S - 2 Agustus 2009

wow.. keren keren critanya pak..

hal yang sebenarnya terlihat simple bisa sampai merusak kehidupan..
tapi kenapa kalau ada stiker yang bertuliskan DILARANG MEROKOK.. belum sampai membuat orang mematuhi untuk tidak merokok ya pak.. hehe..

3. yuniarti, di Penajam - 17 September 2009

sy kagum dg org yg mbuatnya..hebat critanya..banyak makna n hikmah yg diambil manfaatnya..mga aja gk byk yg mnjdi gila lantaran stiker ya pak…hehehe…good luck..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: