jump to navigation

Bimbang 17 Juli 2008

Posted by rijono in Cerpen.
trackback

Kuhapus keringat yang mengucur deras di dahiku. Sapu tanganku sudah tidak mampu menampung keringatku. Sudah setengah harian aku berjalan. Terus kususuri jalanan penuh debu. Matahari sedikit condong ke barat. Awan enggan berarak. Angin mati. Kuletakkan sejenak kopor plastik yang sudah mulai butut di rerumputan. Kuambil botol air kemasan di tas yang kugantungkan di bahu. Tinggal satu tegukan. Segera kubasahi tenggorokanku dengan air itu. Mataku mulai nanar. Inilah air terakhir yang mengisi perutku.

Sampai sesiang ini perutku hanya kuisi dengan air. Pagi tadi aku sempat menyiapkan sarapan kedua anakku sebelum mereka berangkat sekolah. Di dapur tersisa dua bungkus mie instan. Yang satu bungkus kumasak untuk sarapan mereka berdua. Yang satu kusisihkan untuk makan siang mereka. Aku hanya sempat merasai 1 – 2 sendok sisa kuahnya.

***

“Kamu apa nggak sayang dengan tubuhmu, Yam? Pagi-pagi kamu sudah harus berjalan keliling sambil membawa tas ke kampung-kampung. Lihat kulitmu yang kekuningan itu sekarang sudah mulai menjadi hitam. Coba kamu ikut aku, nyanyi di karaoke punya Pak Kumis. Kamu akan jadi bintangnya. Soalnya, kamu dulu ‘kan kembang desa ini”, kata Mbak Susy tetanggaku – yang setahuku nama aslinya Marsih, namun setelah kerja di kafenya Pak Kumis, namanya diganti Susy. (“Agar tidak kelihatan dari kampung”, alasannya), pada suatu senja sebelum dia berangkat kerja.

“Mana bisa aku menyanyi, Mbak”, jawabku asal saja.

“Lho, kamu dulu kan jago ngaji? Pernah jadi juara MTQ di kelurahan kita? Pernah ikut lomba MTQ di Kecamatan? Eh, kamu dulu dapat juara berapa ya Yam?”

“Juara harapan 1. Tapi, ah itu ‘kan sudah lama sekali”.

“Iya. Tapi suaramu masih bagus. Kalau kamu mau belajar sedikit saja, pasti kamu bisa nyanyi. Modalmu sudah ada. Suara oke. Wajah tidak kalah. Bodi masih lumayan. Apalagi?”

“Aku nggak bisa nyanyi. Aku bisanya cuma ngaji. Beda banget lho Mbak, ngaji sama nyanyi itu”.

“Kamu apa nggak sayang dengan tubuhmu, Yam? Pagi-pagi kamu sudah harus berjalan keliling sambil membawa tas ke kampung-kampung. Jualan minyak wangi, jamu, VCD, sapu tangan, … “

“Lha, bisaku cuma ini. Aku ini cuma lulusan SMP. SMEA saja nggak lulus, soalnya keburu dilamar Mas Budi. Nah sekarang, setelah Mas Budi meninggal, aku kan harus bekerja apa saja demi menghidupi kedua anakku”.

“Kerja kok jualan kaya gitu. Mendingan ikut aku saja. Enak. Bisa menghibur diri, nyanyi-nyanyi. Makan dan minum sering ditraktir sama tamu. Dapat tips lagi. Enak, Yam. Kerja mulai jam 9 malam sampai jam 3-an. Nggak kepanasan …”.

“Tapi tubuh Mbak ‘kan sering diremas-remas tamu atau pantatnya digerayangi ….”

“Kata siapa?”, potong Mbak Susy cepat.

“Lho? Kan Mbak Susy pernah menceritakan itu padaku. Apa lupa?”,

“Itu resiko pekerjaan. Ssst …! kamu tahu nggak, tamu yang suka iseng begitu sering memberi tips gede, Yam. Itu yang aku sukaaaa …!”.

“Ih, jijik aku!”, sahutku sambil mencubit lengannya. Mbak Susy ketawa terkikik.

“Coba pikirkan lagi ya …Yam”, katanya sambil meninggalku termangu lama. Sendiri.

***

Hampir dua tahun ini aku menjadi penjaja keliling. Enam bulan setelah suamiku meninggal akibat kecelakaan. Rombong baksonya ditabrak truk pengangkut kayu yang ngebut ketika hujan turun rintik-rintik di suatu senja. Rombong baksonya hancur berantakan tidak berwujud lagi. Tubuh Mas Budi terlempar beberapa meter. Tubuhnya tidak mengeluarkan darah, hanya sedikit lecet dan memar. Ia tersandar di tiang listik jalan. Kepalanya lunglai, layu terkulai ketika dia diangkat oleh tetanggaku. Kata dokter, lehernya patah dan ada pendarahan berat di dalam kepala. Mas Budi tewas seketika. Bumi laksana bergempa dahsyat.

Hari-hari sepeninggal Mas Budi terasa menyiksa. Hidupku sepi. Sepi itu makin menjadi ketika malam Jumat menjelang – hari naas Mas Budi. Biasanya saat-saat seperti itu aku isi dengan membaca Surat Yassin. Aku hampir larut dalam kesedihan berkepanjangan, kalau saja tidak ada Budiman dan Wati – kedua anak kami.

Dan kesedihan itu harus dihilangkan, karena hidup kami masih panjang – setidak-tidaknya kehidupan kedua anak kami. Budiman masih duduk di kelas IV SD. Adiknya di kelas I. Mereka perlu biaya untuk sekolah dan keperluan sehari-hari. Karena harta peninggalan suamiku dan santunan dari perusahan kayu semakin menipis, aku harus bekerja. Bekerja apa saja. Yang penting halal.

Kebetulan temanku SMP ada yang jualan keliling dengan membawa bermacam-macam barang (“Sales”, katanya). Aku diperkenalkan dengan bossnya. Setelah menyerahkan ijazah asli dan uang jaminan Rp 500.000,00, seminggu kemudian aku sudah bisa berjualan seperti temanku. Mula-mula aku masih kikuk, tetapi lama-kelamaan aku mulai lancar. Langgananku semakin banyak. Daerah operasiku semakin lama semakin meluas. Penghasilanku kalau bisa cukup untuk hidup sehari-hari saja bagiku sudah kusyukuri.

Sebulan belakangan ini omset penjualanku semakin menurun drastis. Soalnya di kampung-kampung di dekat rumahku semakin banyak didirikan toko kelontongan. Sehingga aku harus mencari daerah baru. Akibatnya biaya transportasi semakin besar. Sementara omset penjualan sulit ditingkatkan.

Aku tidak mau berjualan di kawasan perumahan elit. Pernah kucoba ke sana. Belum apa-apa aku sudah ditanya macam-macam oleh petugas satpam di pintu masuk. Tas tempat daganganku diperiksa dengan alat yang bisa bunyi tiit … tiit … tiit-nya ketika didekatkan (‘Oh ya, aku ingat namanya. Detektor – detektor gitu lho). Lalu aku disuruh membuka tasku. Kupikir dia mau membeli, ternyata cuma mengacak-ngacak isi tasku. Katanya ada bunyi yang mencurigakan dari tasku. Seperti bunyi bahan peledak atau bom.

Lho, memangnya aku ini teroris apa? Apa dikira aku mau menaruh bom di rumah para pejabat di komplek perumahan elit itu? Apa selama ini ada anggota teroris bom di Indonesia yang wanita? Aku tersinggung berat waktu itu. Untung bisa kuredam, kalau tidak wah, entah apa jadinya. Aku bisa tidak diizinkan menjajakam daganganku di perumahan elit itu.

Tapi aku kemudian kapok berjualan di perumahan elit. Bagaimana tidak kapok? Setelah daganganku sudah diacak-acak, mereka kemudian meminta aku membayar “pajak masuk”. Tidak terlalu besar sih, lima ribu saja. Pengorbanan uang lima ribu sebetulnya tidak perlu kurisaukan seandainya barang daganganku bisa laku 100 – 200 ribu di komplek perumahan itu. Nyatanya tidak. Capek saja yang kuperoleh. Ternyata, rumah-rumah elit itu banyak yang kosong. Hanya tukang kebun atau pembantu rumah tangga yang menempatinya. (“Boss besar paling-paling 1 – 2 kali sebulan datang. Itu pun cuma sebentar”, kata salah seorang dari mereka). Lalu yang namanya tukang kebun atau pembantu, mana mau mereka membeli daganganku – walau sudah setengah mati kurayu.

***

Kusandarkan punggungku di pohon angsana di pinggir jalan entah di mana sebelum mata nanarku menggelap. Kuhapus keringat yang mengucur deras di dahiku. Sapu tanganku sudah tidak mampu menampung keringatku. Sudah setengah harian aku berjalan. Entah sudah berapa lama kususuri jalanan penuh debu. Matahari semakin condong ke barat. Awan tetap enggan berarak. Angin masih mati. Kubiarkan kopor plastikku tergeletak begitu saja di rerumputan. Botol air kosong tergeletak dekat kakiku.

Tiba-tiba kehangatan menyentuh leherku. Hangat. Sangat hangat. Aku sering merasakan kehangatan seperti ini. Mas Budi sering melakukannya, terutama setelah anak-anak kami lelap dalam buaian. Aku suka merasakan hembusan nafas Mas Budi di leherku datang dan pergi. Kucoba kunikmati kehangatan yang sudah lama tidak kurasakan lagi. Letih tubuhku sirna seketika. Lapar perutku tidak lagi terasa. Aku ingin mengajak Mas Budi untuk bersama berpacu.

Sampai akhirnya aku dikejutkan dengan suatu panggilan. Dari kejauhan.

“Hoi, Yam …! Kamu ngapain di situ?”

Kucari dimana sumber suara yang memanggil namaku. Mataku masih agak nanar. Nafasku masih agak tersengal. Rasa hangat di leherku belum sirna benar.

“Yam ….? Kamu sakit? “, kata suara itu diiringi langkah mendekat.

“Eh, Mas No …? Nggak, kok Mas. Aku nggak sakit. Cuma agak pusing sedikit’, jawabku sedikit terbata tetapi lega setelah mengetahui yang datang adalah Mas No. Tetanggaku. Teman Mas Budi juga.

“Kenapa kamu? Mukamu pucat sekali? Sudah lama disini? Sudah makan apa belum? Kamu kok kelihatan lemas sekali?”, tanya Mas No bertubi-tubi.

Aku diam saja. Sambil sedikit menggeleng atau mengangguk. Tidak bisa menjawab pertanyaan Mas No. Habis pertanyaannya banyak betul, sih. Aku jadi bingung. Pertanyaan apa yang harus aku jawab dulu.

“Nih, minum biar kamu agar segar sedikit”, katanya sambil mengulurnya botol air yang isinya tinggal setengah.

Aku agak ragu menerimanya. Tetapi rasa pedih di perut dan jantungku yang agak berdebar memaksaku untuk membuka tutup botol dan menenggak air itu cepat-cepat. Karena agak terburu-buru, aku sedikit tersedak. Air itu memercik ke blusku dan sedikit ke leher. Melihat kejadian ini aku agak malu.

“Ayo, kita pulang sama-sama. Hari mulai sore”, ajaknya.

Aku sebenarnya mau menolak. Tetapi dengan kondisi tubuhku seperti ini, apakah Mas No percaya dengan alasan penolakanku? Dulu Mas No sempat tidak percaya, kalau aku, salah satu siswa berprestasi di SMEA memilih untuk tidak melanjutkan sekolah, untuk kawin dengan Mas Budi. Padahal aku naik ke kelas III dengan ranking I.

Aku menurut saja ketika Mas No menyuruhku naik sepeda motornya. Aku hanya diam saja duduk di sadel motor. Mas No mencoba mengajakku berbicara. Aku hanya diam saja. Deru sepeda motor menggema di sisi-sisi pokok kayu. Debu beterbangan di belakangku. Aku hanya membatu. Pikiranku mengembara entah kemana.

***

“Kerja kok jualan kaya gitu. Seharian keliling kamu dapat berapa? Mendingan ikut aku saja. Enak. Bisa menghibur diri, nyanyi-nyanyi. Makan dan minum ditraktir sama tamu. Dapat tips lagi. Enak, Yam. Kerja mulai jam 9 malam sampai jam 3-an. Nggak kepanasan …”. Kata-kata Mbak Susy itu kembali mengiang.

Ya, seharian tadi aku sudah mencoba menjajakan dagangku. Tetapi tidak ada satupun yang laku. Kejadian ini bukan yang pertama kali terjadi. Dalam 1 – 2 bulan terakhir ini, barang daganganku kurang laku lagi. Entah apa sebabnya. Padahal tabunganku semakin menipis. Cukup untuk 3 – 4 hari saja.

“Kamu apa nggak sayang dengan tubuhmu, Yam? Pagi-pagi kamu sudah harus berjalan keliling sambil membawa tas ke kampung-kampung. Lihat kulitmu yang kekuningan itu sekarang sudah mulai menjadi hitam. Coba kamu ikut aku, nyanyi di karaoke punya Pak Kumis. Kamu akan jadi bintangnya. Soalnya, kamu dulu ‘kan kembang desa ini”, kata-kata Mbak Susy mengiang kembali. Aku mulai membenarkan kata-kata Mbak Susy. Kulit tanganku mulai kusam. Wajahku agak kasar.

“Mana bisa aku menyanyi, Mbak”, jawabku.

“Kamu kan dulu jago ngaji. Suaramu masih bagus. Kalau kamu mau belajar sedikit saja, pasti kamu bisa nyanyi. Modalmu sudah ada. Suara oke. Wajah tidak kalah. Bodi masih lumayan. Apalagi?”

“Aku mau bekerja apa saja, Mbak. Asal halal.”

“Zaman sekarang, mencari yang haram saja susah, Yam. Apalagi yang halal. Aku kerja di Kafenya Pak Kumis seperti ini untuk cari uang juga lho”.

Aku hanya diam. Suara-suara itu terus berseliweran di kepalaku. Terus menggema dan mengganggu.

“Coba pikirkan lagi ya …Yam. kalau kamu sudah mantap, hubungi aku ya ….!” Kalimat ini terus berputar-putar memenuhi kepalaku. Menusuk tajam telingaku.

“Mak, besok kata Bu Guru, kita harus membayar uang buku. Katanya besok haris terakhir. Mak punya uang nggak? Budiman malu Mak sama Bu Guru. Soalnya teman-teman lainnya sudah lunas”, rengek anakku menggaung keras. Menusuk tajam telingaku. Seperti ajakan Mbak Susy.

Padahal hari ini tidak serupiah pun aku dapatkan dari menjajakan dagangan.

Haruskah demi mendapatkan rupiah, aku harus menjajakan tubuhku juga di Kafe Pak Kumis setiap malam, seperti Mbak Susy, Yani, Melly, Dewi, dan lainnya – yang semuanya adalah tetanggaku?

Duh, seandainya saja dulu aku tidak berhenti sekolah dan punya ijazah SMEA, barangkali aku bisa dapat pekerjaan lebih baik. Kalau saja aku dulu mau ikut UPERS. Setidak-tidaknya aku bisa menggunakannya untuk melamar menjadi caleg DPRD di kabupaten dari parpol yang sulit mencari caleg wanita. Seandainya aku menjadi wakil rakyat, barangkali tidak seperti ini nasibku sekarang. Seandainya …!

Samarinda, 10 – 13 April 2005

Komentar»

1. Syn Susilawati - 10 Oktober 2008

Bapak cerpennya saya copy buat koleksi, boleh ya…makasih….

2. suyanik - 26 November 2008

Bapa, saya Yanik dari SMA N 1 Bontang. Saya sedang kul S2 di UM Malang. Saya salut dengan artikel Bapak. Saya juga haru melihat foto Bapak he-.he karena saya tahu betul memang Bapak suka berkeringat dan meyapu muka dengan sapu tangan. Terima kasih atas perjuangan di sertif kemarin Pak. Sejak semula saya yakin bahwa komitmen Bapak terhadap peningk kesejahteraan guru memang tinggi. Kalau ada ganjalan atau beda pendapat orang apalagi yang lbh tinggi kursinya, kita jadikan saja sebagai motivasi. Maju terus Bapak.. Semangat !

3. tiafandf - 30 Januari 2009

cerpennya aku copy..

4. mohamad adriyanto - 3 September 2009

wah, bapak satu ini memang multi talenta… pak, saya pernah tulis sedikit tentang program kita waktu di bontang. semoga bermanfaat.

http://madriyanto.blogspot.com/2008/06/guru-kita-implementasi-komputer.html

5. yuniarti, di Penajam - 17 September 2009

crita yg menarik…seandainya aja ada yg memberinya pekerjaan yg lebih baik..seandainya aja si Yam hidup bahagia…hehehe…saya salut dg bpk..critanya byk pemblajaran didalamnya..yg bisa kt ambil hikmahnya..good luck..

6. MaaF - 24 November 2009

saya ambil ya pak cerpenya…^^

7. orchida regawa - 18 Februari 2010

Orchid nuwun sewu ngopi cerita kekak kagungan bapak nggeh.
matur nuwun pak.

8. orchida regawa - 18 Februari 2010

Orchid nuwun sewu ngopi cerita cekak kagungan bapak nggeh.
matur nuwun pak.

9. pujiono slamet - 1 Maret 2010

wah bagus banget cerpenya.menyentuh sekali..memang sudah nasibnya yam. jangan di sesali..he..he..

10. y@nti - 23 Maret 2010

pak cerpennya menyentuh hati, empati saya langsung tumbuh terhadap si Yam. Semoga perempuan-perempuan seperti si Yam tetap tegar dan tidak terperosok ke dalam pencarian rezeki yang tak halal.

11. ramli penjas unmul - 6 Oktober 2010

cerpennya bagus pak,,, mohon izin sy copy buat koleksi

12. RUSMIYATI (35) - 24 Juli 2014

pak nanang, sosok guru yang sangat ikhlas, terimakasih pak ilmunya yang bapak berikan di pelatihan guru “kurikulum 2013”

13. Ani Purwati - 14 Maret 2016

Lama…. sekali nggak ketemu Pak Nanang- dosen sy wkt pascasarjana bersama Bu Unti, Pak Budi dkk. Smg sehat selalu Pak..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: